Tuesday, November 29, 2011

Mari Laksanakan Puasa Asyura

بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.” (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh An Nawawi.

Pertama: Mungkin saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.

Kedua: Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 55)

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 67)

Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua macam:
  1. Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram.
  2. Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah muthlaq. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 66)
Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram (Latho-if Al Ma’arif, hal. 71). Bulan haram adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa ‘Asyura
Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.” (Syarh Muslim, 8: 4)

Menambahkan Puasa 9 Muharram
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas bahwa di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun beliau sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu.
Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi rahimahullah.

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.
Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawi rahimahullah melanjutkan penjelasannya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam. (Syarh Muslim, 8: 12-13)

Ibnu Rojab mengatakan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 99)

Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:
  1. Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.
  2. Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja. (Tajridul Ittiba’, hal. 128)

Puasa 9, 10, dan 11 Muharram
Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً
Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram, pen) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho’if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, ”Daud kadang yukhti’ (keliru).” Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).

Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata,
خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ
Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.”
Sanad hadits ini adalah shohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). [Dinukil dari catatan kaki dalam kitab Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 2: 60, terbitan Darul Fikr yang ditahqiq oleh Syaikh Abdul Qodir Arfan]

Catatan: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.
Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, ”Jika ragu mengenai penentuan awal  Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 99)

Sebagai Motivasi
Semoga kita terdorong untuk melakukan puasa Asyura. Cukup ayat ini sebagai renungan. Allah Ta’ala berfirman,
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“(Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu".” (QS. Al Haqqah: 24)
Mujahid dan selainnya mengatakan, ”Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, serta akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati)” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 72). Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa.

Insya Allah tanggal 9 dan 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan tanggal 5 dan 6 Desember 2011.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik.Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com
Read more

7 Terapi Hasad

بسم الله الرحمن الرحيم

Seorang muslim yang hanif tentulah sadar bahwa penyakit hasad adalah penyakit yang harus diatasi mengingat bahaya yang ditimbulkannya teramat besar. Artikel ini secara singkat berusaha memberikan beberapa kiat untuk mengatasi penyakit hasad tersebut. Semoga bermanfaat
  • Obat yang paling pertama adalah mengakui bahwa hasad itu merupakan sebuah penyakit akut yang harus dihilangkan. Tanpa adanya pengakuan akan hal ini, seorang yang tertimpa penyakit hasad justru akan memelihara sifat hasad yang diidapnya. Dan pengakuan bahwa hasad adalah sebuah penyakit yang berbahaya tidak akan timbul kecuali dengan ilmu agama yang bermanfaat.
  • Ilmu yang bermanfaat, hal ini berarti bahwa seorang yang ingin mengobati hasad yang dideritanya harus memiliki pengetahuan atau ilmu, dan pengetahuan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu secara global dan secara terperinci.
Pertama, secara global, maksudnya dia mengetahui bahwa segala sesuatu telah ditentukan berdasarkan qadha dan qadar-Nya; segala sesuatu yang dikehendaki-Nya akan terjadi dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi. Demikian pula, dia menanamkan dalam dirinya bahwa rezeki yang telah ditetapkan dan diberikan Allah kepada para hamba-Nya, tidak akan berubah dan tertolak karena ketamakan dan kedengkian seseorang.

Kedua, secara terperinci, yakni dia mengetahui bahwa dengan memiliki sifat hasad, pada hakekatnya dia membiarkan sebuah kotoran berada di mata air keimanan yang dimilikinya, karena hasad merupakan bentuk penentangan terhadap ketetapan dan pembagian Allah kepada para hamba-Nya. Dengan demikian, hasad merupakan tindakan pengkhianatan kepada saudara-Nya sesama muslim dan dapat mewariskan siksa, kesedihan, kegalauan yang berkepanjangan. Demikian pula, hendaklah dia menanamkan kepada dirinya bahwa hasad justru akan membawa berbagai dampak negatif bagi dirinya sendiri, baik di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang dihasadi justru memperoleh keuntungan berupa limpahan pahala akibat hasad yang dimilikinya [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah].

Jadi bagaimana bisa seorang berakal membiasakan dirinya untuk dengki (hasad) kepada orang lain?!

Muhammad ibnu Sirin rahimahullah mengatakan,
“Saya tidak pernah dengki kepada orang lain dalam perkara dunia, karena apabila dia ditetapkan sebagai ahli jannah, bagaimana bisa saya mendengkinya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju jannah. Sebaliknya, jika dia adalah ahli naar, bagaimana bisa saya dengki kepadanya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju naar” [Muktashar Minhajul Qashidin 177].
  • Dengan amal perbuatan yang bermanfaat, yaitu melakukan kebalikan dari perbuatan-perbuatan negatif yang muncul sebagai akibat dari sifat hasad [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah]. Hal ini diisyaratkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat: 34).
Jika sifat hasad mendorongnya untuk mencemarkan dan memfitnah orang yang didengkinya, maka ia harus memaksakan lidahnya untuk memberikan pujian kepada orang tersebut. Jika sifat hasad mendorongya untuk bersikap sombong, maka ia harus memaksa dirinya untuk bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepada orang yang didengkinya, memuliakan, dan berbuat baik kepadanya. Jika di kali pertama  dia bisa memaksa dirinya untuk melakukan berbagai hal tersebut, maka insya Allah selanjutnya dia akan terbiasa melakukannya, dan kemudian hal itu menjadi bagian dari karakternya.
  • Meneliti dan menelusuri sebab-sebab yang membuat dirinya menjadi dengki kepada orang lain, kemudian mengobatinya satu-persatu. Misalnya, sifat sombong diobati dengan sifat tawadhu‘ (rendah hati), penyakit haus kedudukan dan jabatan diobati dengan sifat zuhud, sifat tamak (rakus) diobati dengan sifat qana’ah dan berinfak, dst.
  • Di antara obat hasad yang paling mujarab adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam firman-Nya,
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An Nisa: 32).
Dalam ayat ini, Allah ta’ala melarang hamba-Nya iri (dengki) terhadap rezeki yang berada di tangan orang lain, dan Dia menunjukkan gantinya yang bermanfaat di dunia dan akhirat yaitu dengan memohon karunia-Nya karena hal tersebut terhitung sebagai ibadah dan merupakan perantara agar permintaannya dipenuhi apabila Allah menghendakinya [Fatawasy Syabakah Al Islamiyah 7/278; Maktabah Asy Syamilah].
  • Bersandar kepada Allah, bermunajat serta memohon kepada-Nya agar berkenan mengeluarkan penyakit yang kotor ini dari dalam hatinya.
  • Banyak mengingat mati. Abud Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan,
من أكثر ذكر الموت قل فرحه وقل حسده
“Seorang yang memperbanyak mengingat mati, niscaya akan sedikit girangnya dan sedikit pula sifat hasadnya” [Hilyatul Auliya 1/220].
***

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id
Read more

Serba-Serbi Bulan Muharram

بسم الله الرحمن الرحيم

Hendaknya kita merasa cukup dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, dan sejelek-jelek perkara dalam agama adalah amalan ibadah baru yang diada-adakan.

Keutamaan Bulan Muharram
Bulan Muharram termasuk bulan yang disucikan Allah ta’ala. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mensifati dan menisbatkannya kepada Allah dengan menamainya sebagai “syahrullah al muharram” (bulan Allah Al Muharram). Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan ini di sisi Allah ta’ala, karena tidaklah Allah  menggandengkan sesuatu dengan nama-Nya kecuali dengan makhluk-Nya yang istimewa.(Lathaiful Ma’arif hal 70, karya Ibnu Rajab Al Hambali)

Al Hasan rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan yang suci dan menutupnya dengan bulan yang suci pula. Dan tidaklah ada bulan dalam setahun yang lebih agung di sisi Allah setelah bulan Ramadhan kecuali bulan Muharram.”  (Lathaiful Ma’arif hal 67, karya Ibnu Rajab Al Hambali)

Bulan Muharram merupakan bulan yang Allah utamakan. Sisi keutamaannya adalah bahwa berpuasa di bulan ini lebih utama daripada berpuasa di bulan yang lain selain bulan Ramadhan, sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih dari Nabi shalallahu ‘alai wa sallam, “Puasa paling utama setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al Muharram.” (HR. Muslim)

Adapun hadits yang menceritakan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa apa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, kemudian beliau menjawab, “Puasa pada bulan Sya’ban dalam rangka mengagungkan Ramadhan.” Kemudian beliau ditanya lagi tentang sedekah apa yang paling utama, kemudian beliau menjawab,”Sedekah di bulan Ramadhan.” Hadits tersebut adalah hadits yang mungkar begitu pula dengan hadits: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Sya’ban.”

Imam An Nawawi berkata dalam kitab Al Adzkar,”Makruh hukumnya menamai bulan Muharram dengan Shafar karena hal tersebut merupakan kebiasaan jahiliyah.” (Al Adzkar hal.313, karya An Nawawi)

Ibnu ‘Allan mengatakan,” As Suyuthi berkata: Aku ditanya” Mengapa bulan Muharram dikhususkan dengan sebutan “Syahrullah Al Muharram” sedangkan bulan yang lain tidak. Padahal, ada bulan lain yang menyamai keutamaannya atau bahkan lebih utama darinya semisal Ramadhan?” Maka diantara jawaban yang aku temukan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah bahwa penamaan bulan Muharram dengan istilah Al Muharram adalah penamaan yang islami, berbeda dengan bulan selainnya di masa jahiliyah. Karena nama bulan Muharram di masa jahiliyah adalah “Shafar Al Awwal” (bulan Shafar yang pertama). Kemudian bulan setelahnya dinamakan “Shafar Ats Tsani” ( bulan shafar yang kedua). Ketika islam datang, maka Allah menamai bulan Muharram yang tadinya bernama “Shafar Al Awwal” menjadi “Al Muharram”, maka Allah kemudian menggandengkan nama bulan ini dengan namanya (sehingga menjadi: Syahrullah Al Muharram). Ini merupakan faidah yang sangat menarik dan berharga yang aku lihat dalam kitab Al Jamharah” (Al Futuhat Ar Rabaniyyah bi Syarhi Al Adzkaar An Nabawiyyah 7/100, karya Ibnu ‘Allan)

Diantara kekeliruan yang dilakukan banyak orang adalah menyebut bulan ini dengan lafadz “muharram” tanpa ada hurul alif dan lam di awalnya.  Penyebutan yang benar adalah dengan lafadz “al muharram” karena orang arab tidaklah menyebut bulan ini kecuali dalam bentuk mu’arraf (mengandung huruf alif dan lam) dan demikian pulalah yang disebutkan dalam berbagai hadits yang mulia dan berbagai syair arab. (Tashwibul Mafaahim hal 75). Tidaklah huruf alif dan lam masuk dalam nama bulan kecuali untuk bulan Muharram.

Bulan Muharram dan Puasa Asyura’
Hari Asyura’ adalah hari kesepuluh di bulan Muharram menurut mayoritas ulama. Hari tersebut merupakan hari yang mulia, diberkahi, agung kedudukannya, dan memiliki keutamaan yang besar. Diantara keutamaan hari Asyura’ adalah:

1. Pada Hari Asyura’ Allah ta’ala Menyelamatkan Musa dan Bani Israil serta Menenggelamkan Fir’aun dan Pengikutnya.
Dari Ibnu Abas radhiallahu ‘anhuma , beliau mengatakan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah dan beliau menjumpai orang Yahudi dalm keadaan berpuasa pada hari Asyura’. Maka beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa ini yang kalian berpuasa di dalamnya?” Mereka menjawab, ”Ini merupakan hari yang agung dimana Allah ta’ala menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya. Sehingga Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur, sehingga kami pun berpuasa sebagaimana beliau.” Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Kami lebih berhak terhadap Musa dari kalian.” Beliau pun berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

2. Puasa di Hari Asyura’ Dapat Menghapus Dosa Setahun yang Lalu.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai puasa di hari Asyura’, “Aku berharap bisa menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

3. Puasa di Hari Asyura’ Merupakan Puasa yang Sangat Nabi Inginkan Keutamaannya Dibandingkan Hari yang Lain.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang puasa di hari Asyura’, maka beliau menjawab, “ Tidaklah aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada satu hari yang sangat beliau inginkan mendapat keutamaannya dibandingkan hari yang lain kecuali hari ini – yaitu hari Asyura’-, dan bulan ini –yaitu Ramadhan-.” (HR. Bukhari-Muslim)

Disunnahkan untuk berpuasa di tanggal sembilan Muharram beserta tanggal sepuluhnya, karena hal ini merupakan keadaan akhir yang dilakukan Nabi ketika melakukan puasa Asyura’.

Diantara perbuatan yang keliru adalah berpuasa pada tanggal sembilan Muharram saja, sedangkan yang diajarkan dalam hadits shahih adalah berpuasa pada tanggal sepuluh saja atau pada tanggal sembilan dan sepuluh. Adapun menambahkannya dengan tanggal sebelas, maka sebagian ulama menilai bahwa hadits yang menyebutkan tanggal sebelas Muharram adalah hadits yang dha’if.

Beberapa Bid’ah Berkaitan Dengan Bulan Muharram
Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, ”Tidak ada satu dalil pun yang shahih dalam syariat berkenaan dengan dzikir dan doa awal tahun, yaitu untuk awal hari atau malam memasuki bulan Muharram. Banyak orang yang membuat doa, dzikir, berbagai peringatan, saling mengucapkan selamat, berpuasa di hari pertama awal tahun, menghidupkan malam di hari pertama bulan Muharram dengan sholat, dzikir, doa, berpuasa di akhir tahun dan berbagai hal lainnya yang ternyata tidak ada dalilnya.” (Tas-hihud Du’aa’ hal.107-108, karya syaikh Bakr abu Zaid)

Berkaitan dengan ini, berikut ini adalah diantara bid’ah yang dilakukan di bulan Muharram:

1. Membuat Perayaan Masuknya Tahun Baru Hijriyah dan Saling Mengucapkan Selamat dengan Datangnya Tahun Baru.
Betapa merasa sakitnya seorang muslim ketika melihat jama’ah kaum muslimin, baik individu maupun masyarakatnya merayakan tahun baru hijriyyah sedangkan ketika merayakannya mereka lupa berdasar perintah siapa mereka merayakan perayaan tersebut. Apakah berdasar perintah Allah dalam Kitab-Nya? Ataukah berdasarkan perintah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah mereka melakukan demikian karena meneladani para sahabat radhiallahu ‘anhum? Sesungguhnya diantara kekeliruan yag sangat jelas adalah ketika kaum muslimin lebih memilih melakukan hal-hal yang tidak berdalil baik dari Al Qur’an maupun sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Peringatan Hijrahnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian orang di zaman ini tidaklah mengetahui hijrahnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kecuali sebagai memoar yang dibacakan sekali tiap tahun dan diadakanlah berbagai perayaan, khutbah, dan berbagai ceramah keagamaan dalam jangka waktu beberapa hari kemudian selesai dan dilupakan sampai tiba tahun selanjutnya tanpa adanya pengaruh sedikitpun pada perilaku dan amalan mereka. Oleh karena itulah Anda jumpai sebagian mereka tidak berhijrah dari negeri musyrik ke negeri Islam sebagaimana hijrahnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sebaliknya, banyak di antara mereka yang berpindah dari negeri Islam ke negeri musyrik bukan karena alasan apapun selain hanya untuk mencari kemewahan dan hidup di sana dengan kebebasan hewani -wal iyadzu billah-.

3. Mengkhususkan Hari Pertama di Awal Tahun dengan Berpuasa dengan Niat Membuka Tahun Baru Tersebut dengan Puasa.
Begitu pula mengkhususkan berpuasa selama sehari di hari terakhir tahun tersebut dengan niat sebagai ucapan selamat tinggal untuk tahun tersebut dengan berdalil menggunakan hadits palsu: “Barangsiapa yang berpuasa di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama di bulan Muharram, dia telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa, maka Allah akan menjadikannya sebagai penebus dosa baginya selama lima puluh tahun.”

4. Menghidupkan Malam Pertama di Bulan Muharram untuk Melakukan Ibadah.
Syaikh Abu Syamah mengatakan, ”Tidak ada satu pun dalil yang menuntunkan suatu amalan tertentu di malam pertama bulan Muharram. Aku telah mencari di berbagai riwayat baik yang shahih maupun yang dha’if dan dalam hadits-hadits maudhu’, tetapi tidak aku jumpai satu pun yang menyebutkan tentang hal tersebut.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal.239)

5. Mengkhususkan Awal Tahun Hijriyah untuk Melakukan Umrah Sebagaimana yang Dilakukan Sebagian Orang di Bulan Muharram.

6. Membuat Doa Khusus di Hari Pertama Tahun Baru yang Dinamakan dengan Doa Awal Tahun.
Semua hal tadi merupakan amalan yang tidak ada satu dalil shahih pun yang menuntunkan untuk melakukannya. Hendaknya kita merasa cukup dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, dan sejelek-jelek perkara dalam agama adalah amalan ibadah baru yang diada-adakan.
***

Sumber: muslim.or.id
(Disarikan dari kitab “Lathaiful Ma’arif”  karya Ibnu Rajab Al Hambali dan “Bida’ wa Akhtha’ Tata’allaqu bil Ayyaam Wa syuhur” karya Ahmad bin Abdullah As Sulami oleh Rizki Amipon Dasa)
Read more

Hukum Puasa Di Awal Dan Di Akhir Tahun Hijriah

بسم الله الرحمن الرحيم

Kita tahu bahwa amalan puasa adalah amalan yang mulia. Namun pensyariatan puasa tersebut tentu saja harus mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di samping kita harus ikhlas dalam beribadah agar puasa kita diterima di sisi Allah. Lantas bagaimana jika amalan yang kita lakukan tanpa dasar atau dalilnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan hujjah (pendukung)? Tentu saja amalan tersebut tidak bisa kita amalkan dan kalau tetap diamalkan akan tertolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Amalan yang satu ini yaitu puasa di akhir tahun (29 atau 30 Dzulhijjah) dan awal tahun hijriyah (1 Muharram) adalah amalan yang saat ini tersebar di tengah-tengah kaum muslimin. Bagaimana tinjauan Islam akan puasa ini? Apakah benar dianjurkan?

Tinjauan Hadits

Sebagian orang ada yang mengkhsuskan puasa dalam di akhir dan awal tahun Hijriyah. Inilah puasa yang dikenal dengan puasa awal dan akhir tahun. Dalil yang digunakan adalah berikut ini.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً
“Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta'ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.” Hadits ini disebutkan oleh Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) dan Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Al Mawdhu’at (2: 566).

Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.

Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.

Ibnul Jauzi dalam Al Mawdhu’at (2: 566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits.

Kesimpulannya, hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Fatwa Ulama

Dr. Salman bin Fahd Al ‘Audah (pimpinan umum web islamtoday.net) mendapat pertanyaan, “Ada saudara kami yang biasa berpuasa di awa dan akhir tahun hijriyah. Ia mengklaim bahwa ajaran tersebut termasuk sunnah. Bagaimana hukum puasa ini? Jazakallah khoirol jaza’.”

Jawaban:

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, wa ba’du:

Perlu diketahui bahwa mengkhususkan suatu hari, waktu, atau tempat dengan shalat atau ibadah lainnya adalah menjadi keputusan syari’at. Tidak boleh bagi seorang pun menentukan hal ini dengan semaunya. Puasa di awal dan akhir tahun hijriyah, bukanlah suatu amalan yang diperintahkan dan tidak memiliki dasar sama sekali. Tidak ada satu pun hadits shahih dan selainnya yang menganjurkan puasa tersebut. Oleh karena itu, puasa seperti itu tidaklah diperintahkan. Hendaknya saudari tersebut berpuasa tiga hari setiap bulannya jika ia mau. Atau ia bisa pula berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) dan satu hari sebelumnya. Ia pun bisa melakukan puasa Arofah (9 Dzulhijjah) jika ia tidak punya hajat. Semoga Allah menerima amalan kita dan engkau. (Sumber: islamtoday.net)

Tinggalkan Bid’ah!

Nasehat kami, masih banyak puasa sunnah lainnya yang bisa kita amalkan bahkan dalam setahun banyak sekali tuntunan puasa sunnah yang menuai pahala besar di sisi Allah. Seharusnya kita mencukupkan diri dengan amalan tersebut. Masih ada puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, ada pula puasa Arofah dan puasa Senin Kamis. Puasa seperti ini cobalah kita rutinkan, kenapa mesti mengamalkan sesuatu yang tidak berdasar [?]

Lihat bahasan puasa sunnah dalam setahun di sini.

Ingatlah bahwa amalan tanpa dasar (baca: bid’ah) bukanlah malah mendekatkan diri seseorang pada Allah, namun malah membuat semakin jauh dari rahmat-Nya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ayyub As Sikhtiyani -salah seorang tokoh tabi’in- bahwa beliau mengatakan:

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً
“Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah.” (Hilyatul Auliya’, 1: 392).

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al Ibanah Al Kubro li Ibni Baththoh, 1: 219, Asy Syamilah)

Alhamdulillah, rumaysho.com juga telah membahas amalan lainnya dalam menyambut awal tahun hijriyah yang keliru di sini.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
***

Sumber: www.rumaysho.com
@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 29 Dzulhijjah 1432 H
Read more

Sunday, April 03, 2011

7 Amalan yang Tetap Lestari Pahalanya Meskipun Sudah Meninggal Dunia

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada tujuh perkara yang pahalanya mengalir sedangkan ia berada di kuburnya setelah mati, yaitu Orang yang mengajarkan ilmu, Orang yang mengalirkan sungai, Orang yang menggali sumur, Orang yang menanam pohon kurma, Orang yang membangun masjid, Orang yang mewariskan mushaf Al-Qur’an dan Orang meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah meninggal. ( H.R. Bazzar )

1. Amalan yang pertama dari tujuh amalan yang merupakan amalan yang terus mengalir pahalanya ini adalah mengajarkan ilmu, yang dimaksud ilmu ini adalah ilmu yang mbermanfaat yang membuat orang lain dapat mengenal ajaran agama mereka, yang membuat orang lain dapat mengenal Allah Subhanallahu Wata’ala bisa meniti jalan yang lurus. Ilmu yang dapat membuat orang tersebut dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan , yang mereka dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan dan dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini menunjukkan keutamaan para ulama dan para dai yang ikhlas. Mereka mengajari orang-orang yang tidak tahu dan mengingatkan orang-orang yang lupa. Ketika mereka meninggal ilmu mereka tetap mengalir pahalanya. Ketika seorang ulama meninggal, tetapi kitab dia tetap ada. Generasi-generasi setelahnya dapat mengambil ilmu tersebut. Termasuk dalam keutamaan mengajarkan ilmu ini adalah menyumbang menyebarkan kitab. Orang yang seperti ini juga tidak akan kehilangan kesempatan meraih pahala ini.

2. Amalan yang kedua adalah mengalirkan sungai. Yaitu membuka aliran sungai sehingga penduduk dapat menikmati air tersebut ke sawah-sawah mereka, pohon-pohon pun dapat menikmati air tersebut. Sungguh bermanfaat sekali aliran sungai ini. Orang yang mengalirkan sungai tersebut mendapat pahala seiring dengan penggunaan air dari aliran sungai tersebut.

3. Amalan yang ketiga adalah menggali sumur. Ini tidak jauh berbeda dengan amalan yang kedua yaitu mengalirkan sungai.
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan terasalah olehnya dahaga yang sangat. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia meneruninya untuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba dia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: Anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi lalu turunlah dia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu digigit agar dapat naik kembali. Kemudian ia meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuninya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kami akan mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini? Rasulullah saw. menjawab: Pada setiap yang bernyawa (mahluk hidup) ada pahalanya. (Shahih Muslim No.4162).
Dalam pemeliharaan setiap makhluk hidup yang basah itu ada pahalanya.
Banyak sekali yang dapat mengambil manfaat dengan menggali sumur tersebut. Jelas hal ini merupakan keutamaan yang sangat besar.

4. Amalan yang keempat adalah menanam pohon kurma. Pohon kurma ini sangat besar manfaatnya dan dimakan dalam berbagai keadaan. Ketika sedikit manis, itu dapat dimanfaatkan. Ketika sudah manis, juga dapat dimanfaatkan. Dan termasuk dalam hukum, menanam pohon selain kurma, yang bermanfaat bagi manusia juga mendapat pahala selama pohon tersebutdapat bermanfaat bagi binatang maupun manusia. Orang yang menanam pohon tersebut akan mendapatkan pahala selama pohon tersebut dapat dimanfaatkan.

5. Amalan yang kelima adalah membangun masjid. Di masjid ini akan didirikan berbagai ibadah, salat, membaca Al-Qur’an, zikir, mengajarkan ilmu, halaqah-halaqah, hafalan Al-Qur’an, buka puasa bersama, dan lain-lain. Semua amalan ini akan mengalirkan pahala bagi orang yang membangunnya. Barangsiapa yang membangun masjid dengan mengharap ridha Allah semata, maka Allah akan membangunkan masjid yang serupa di surga.

6. Amalan yang keenam adalah mewariskan mushaf, maksudnya adalah mencetak mushaf Al-Qur’an, atau membelinya kemudian mewakafkannya ke sebuah masjid atau sekolahan atau halaqah hafalan Al-Qur’an, amalan seperti ini akan mengalirkan pahala setiap Al-Qur’an tersebut dibaca, ditadaburi, dan setiap ada orang yang mengamalkan ilmu dari Al-Qur’an tersebut.

7. Amalan yang ketujuh adalah mendidik anak-anak dengan baik, sehingga anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang saleh, menjadi anak-anak yang menjadi penyeduk mata bagi orang tua, anak-anak tersebut akan beristigfar, bersedekah. Amalan seperti ini juga akan mengalirkan pahala bagi orang tua mereka, setelah orang tua ini terputus dari amalan, dan menunggu di kuburan. Ajarkanlah kepada mereka Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya, ajarilah mereka adabadab yang baik.
***

Sumber: http://www.radiorodja.com/
Prof. Dr. Syaikh AbdurRazzaq Bin AbdulMuhsin Al Badr
Read more

Sunday, March 06, 2011

Jalan Cinta Para Pejuang

بسم الله الرحمن الرحيم

Cinta menjadi rumit ketika salah diterjemahkan. Bukan dalam bentuk pendefinisian yang begitu banyak bermunculan oleh setiap orang. Sebagaimana menurut Erich Fromm memandang bahwa percintaan adalah bentuk produktif antara diri sendiri dengan orang lain. Bagi Erich cinta mencakup tanggungjawab, perhatian, rasa hormat dan pengetahuan serta hasrat agar yang kita cintai tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Lajut Erich Fromm, bahwasanya cinta adalah ungkapan kemesraan antara dua insan dalam keadaan saling menjaga integritas. Intinya dalam pandangan Fromm ini, cinta itu adalah tugas indah. Namun bagi seorang abraham maslow dalam Hierarchy of needs, cinta mengandung aspek kegembiraan, keceriaan, kesenangan, perasaan sejahtera dan kenikmatan. Tentu saja keduanya mencakup apa-apa yang ada di dalam cinta. Tak ada yang salah dalam menerjemahkan cinta. Lalu apa yang salah?, seringkali yang salah adalah kita yang memperlakukan cinta, memandangnya sebagai sinonim dari keinginan menguasai dan memiliki. Mungkin perlulah kita selami kalimat indah dari Anis Mata dalam serial cintanya, bahwa “Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya, pengejawantahan cinta yang paling hakiki : selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang yang kita cintai”. Yak, disini cinta didefinisikan sebagai memberi bukan memiliki atau meminta. Seringkali kita merasa sakit karena posisi jiwa kita yang salah dalam melihat cinta itu sendiri.

Cinta bagi para pejuang adalah bagaimana bangun ketika bermimpi dan mewujudkannya dalam alam nyata, cinta bagi para pejuang bermodalkan visi yang dibuat secara sadar, sadar akan diri yang seorang muslim yang menjadi rahmat semesta alam, cinta dijalan para pejuang adalah keberanian memilih dalam ketakwaan yang membawa kebarokahan, cinta dalam jalan pejuang adalah wadah berisi visi-visi besar untuk kejayaan agama Allah, cinta di jalan para pejuang adalah ketika cita tak merasuk menjadi nafsu, dijalan cinta para pejuang tak ada visi dan tujuan yang tak jelas, di jalan cinta para pejuang penuh rencana kebaikan dan membiarkan Allah yang lanjut menentukan, di jalan cinta para pejuang selalu ada gairah yang membangkitkan bukan merusuhkan, gairah surga. Cinta di jalan ini, jalan cinta para pejuang selalu kita diajarkan untuk bertanggungjawab dengan setiap perasaan kita, di jalan cinta para pejuang Cinta akan selalu menjelma menjadi kata kerja dan membiarkan segala kerja cinta dalam refleksinya pada amal shalih kita menjadi imam akan perasaan hati. Di jalan cinta para pejuang kita sadar sesadarnya bahwa semua yang kita cintai, semua yang pernah ada bersama-sama di jalan ini hanyalah titipan dari Allah yang suatu hari akan kembali pula padaNya, Di jalan cinta para pejuang cemburu menjadi letupan gairah yang padanya kita belajar namun bukan untuk cemburu itu sendiri. Cinta di jalan para pejuang nurani menjadi kawan pada hatihati yang mensuci, di jalan ini, jalan cinta para pejuang kita melestarikan nilai-nilai nazhar, melihat, berbaik sangka pada Allah menjaga pandangan dalam batas-batas dan selalu mencari hal yang menarik bukan sebaliknya, di jalan cinta para pejuang yang terpenting bukanlah seberapa banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu, di jalan ini sudah semestinya kita hanya melihat keagungan iman, menyadari sepenuhnya Allah selalu bersama kita. Cinta bagi pejuang akan mampu merantas segala logika jahili dengan nalar iman yag terus bekerja. Di jalan cinta para pejuang berbakti pada Allah dalam kerja-kerja da’wah dan jihad, menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman. Berjalan di jalan cinta para pejuang artinya menyadari seutuhnya bahwa ikhlas pun adalah sebuah perjalanan yang terus berproses untuk kita temukan, di jalan cinta para pejuangsabar dan syukur menjadi pilihan wajib, di jalan cinta para pejuang kita harus terus berhati-hati terhadap jebakan syaitan, karena yang tampak indah harus selalu diperiksa dengan ukuran kebenaran, ketika kita tersadar arah kita salah, kita harus segera mengubah arah kemudi kita, cerdas mengelola kemudi diri, hingga cinta kita terus sujud dalam ketaatan dalam kecintaan padaNya tak bisa melebihi kecintaan pada yang lain. Di jalan cinta para pejuang kita tak hanya sekedar menyadari namun juga meyakini sesungguhnya Allah lah yang lebih tahu tentang kita. Astrada paling bijaksana. Dia lah yang berhak atas akhir dari tiap cerita kita, yang selalu diharapkan seindah surga. Di jalan cinta para pejuang kita berlatih untuk terus taat meski kondisi tak mudah. Dengan tekad pribadi dan dukungan sepenuh jiwa orang-orang tercinta. Di jalan cinta para pejuang kita yakini tiada daya taat dan tiada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan Allah. Sekuat tenaga kita melangkah terus berjuang. Di jalan cinta para pejuang kestiaan sejati bukanlah padamu, bukan pada manusia, namun pada Allah subhanahuwata’ala dan syari’atnya. Di jalan cinta suci ini kata tak lagi bermakna, manusia memberinya makna dengan Amal dan tindakan nyata. Muaranya pembuktian. Di jalan cinta para pejuang menutup pintu-pintu kerusakan menjadi tradisi, kehatihatian adalah pakaian. Di jalan ini, jalan suci jalan cinta para pejuang, tak ada cinta yang lemah lagi kerdil, tak ada cinta yang super melankolik, tak ada cinta yang menghanyutkan, tapi yang ada adalah cinta yang melapangkan, cinta yang tegak, cinta yang berani dan bertanggungjawab, serta cinta yang terus mengarahkan pada kebajikan. Cinta yang kuat. Kuat karena landasan cintanya ada pada Sang Maha Cinta.
***

Jalan Cinta Para Pejuang. Karya Salim A. Fillah/ Pro-U Media
Read more

Friday, March 04, 2011

Murottal Juz 30 Abu Usamah

بسم الله الرحمن الرحيم

Murottal Juz 30 Abu Usamah, terdiri dari audio file dengan format m3u, mp3, dan ogg. Anda dapat mendownload surat Al Fatihah dan surat-surat juz 30:
  • 001 Al Fatihah
  • 078 An Naba
  • 079 An Naazi'at
  • 080 'Abasa
  • 081 At Takwir
  • 082 Al Infithar
  • 083 Al Mutoffifiin
  • 084 Al Insyiqoq
  • 085 Al Buruj
  • 086 Al Thoriq
  • 087 Al A'la
  • 088 Al Ghosiyah
  • 089 Al Fajr
  • 090 Al Balad
  • 091 As Syamsu
  • 092 Al Lail
  • 093 Ad Dhuha
  • 094 Asy Syarh
  • 095 At Tiin
  • 095 Al Alaq
  • 097 Al Qodar
  • 098 Al Bayyinah
  • 099 Al Zalzalah
  • 100 Al Adiyat
  • 102 At Takaatsur
  • 103 Al Ashr
  • 104 Al Humazah
  • 105 Al Fiil
  • 106 Quraisy
  • 107 Al Maa'un
  • 108 Al Kautsar
  • 109 Al Kaafirun
  • 110 An Nashr
  • 111 Al Masad
  • 112 Al Ikhlas
  • 113 Al Falaq
  • 114 An Naas

Download di sini
Read more

Saturday, February 26, 2011

Pengertian Fitnah

بسم الله الرحمن الرحيم

Pengertian fitnah dalam bahasa Indonesia ternyata jauh berbeda dengan pengertian fitnah dalam Islam. Dalam bahasa Indonesia fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang (wikipedia). Sedangkan pengertian fitnah secara bahasa dari bahasa Arab adalah ujian atau cobaan.

Di dalam Al-Qur'an banyak disebutkan kata-kata fitnah yang mempunyai arti yang berbeda-beda, atau bisa disebut dengan pengertian fitnah secara istilah:
  1. Fitnah adalah kekufuran.
  2. يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
    Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah 217)
  3. Fitnah adalah menyesatkan.
  4. يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
    Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS Al-Maidah 41)
  5. Fitnah adalah menghalang-halangi dari jalan Allah.
  6. Fitnah adalah wanita, harta dan anak.
  7. Fitnah adalah ujian.
  8. Fitnah adalah azab.
  9. Fitnah adalah dibakar dengan api.
  10. Fitnah adalah alasan.
  11. Fitnah adalah perubahan keadaan menjadi semakin buruk.
  12. Fitnah adalah pembunuhan atau peperangan.
Read more

Toleransi Sesama Muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan memperkokoh silaturahim antarumat beragama dan menjaga hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Sebab seringkali manusia tidak dapat menerima perbedaan diantara sesamanya, lalu dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. Perbedaan agama dapat menjadi salah satu faktor penyebab utama adanya konflik antarmanusia.

Namun, sikap intoleran terhadap sesama muslim juga bisa mendorong terjadinya konflik atau bahkan perpecahan. Maka sikap toleran internal kalangan muslim pun wajib ditumbuhkembangkan. Toleransi menurut Syekh Salim bin Hilali memiliki karakteristik:
  • Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan
  • Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan
  • Kelemahlembutan karena kemudahan
  • Muka yang ceria karena kegembiraan
  • Rendah diri dihadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan
  • Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian
  • Memudahkan dalam berdakwah ke jalan Allah Subhanallahu wa Ta'ala tanpa basa-basi
  • Terikat dan tunduk kepada agama Allah Subhanallahu wa Ta'ala tanpa ada rasa keberatan

Ketika menjalin hubungan damai antarumat beragama bisa memungkinkan masing-masing pihak saling mengembangkan sikap toleransi dengan membolehkan setiap penganut agama untuk menjalankan ajaran dan ritual agamanya dengan bebas dan tanpa tekanan maka sesungguhnya hal serupa justru harus lebih dulu dilakukan di intern kaum muslimin.

Adanya firqah-firqah dalam kehidupan umat islam, tidak lalu menyebabkan terjadinya beda pandangan atau paham dalam banyak hal mendorong rasa permusuhan dan menistakan satu dengan lainnya. maka memperkokoh tali silaturahim dan lapang dada untuk menerima perbedaan menjadi kunci pembenarannya. (AR)
***

Sumber: Lembar Risalah An-Natijah 24 Desember 2010
Read more

Rizki Tak Hilang

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada orang mengatakan bahwa yang namanya hidup ini tak ubahnya seperti permainan judi, ada kalanya menang ada pulanya pun kalah. Adalah faktor keberuntungan (lucky) yang jadi dalih untuk berhasilnya seseorang memenangkan permainan itu, selain tentu saja kepiawaian dalam memainkan "kartu-kartu" kehidupan.

Hidup memang diwarnai dengan tema-tema pertarungan. Buya HAMKA misalnya, pernah menulis puisi dengan kalimat: menyabung hidup di wathan kami. Seuntai puisi yang ditulis untuk memperingati wafatnya HOS Tjokroaminoto di tahun tiga puluhan.

Dalam konteks penggalan kalimat dari puisi HAMKA itu, kata "menyabung hidup" memang tepat sebab 'menyabung' lazim digunakan dalam "adu ayam". Sebagai anak negeri jajahan, apa yang diperjuangkan para pejuang adalah 'melawan hidup dan mati' demi mengusir kaum penjajah. Pertahuran hidup yang terjadi di negeri (wathan) kita zaman itu tentu disertai dengan 'duel maut' melawan kaum kompeni.

Akan tetapi, pernyataan soal hidup adalah serupa perjudian, sungguh tidak pas. Karena kita tidak berada dalam "wilayah kalah atau menang", termasuk dalam perolehan rizki. Sebab rizki telah ditetapkan oleh Allah Subhanallahu wa Ta'ala di masing-masing diri. Hanya persoalan waktu (timing) yaitu kadang tiba dengan pas, kadang tertunda. Maka bersabarlah.

Kalimat indah dari Hasan Al-Basri ini ada baiknya untuk kita renungi:
Aku tahu, rizkiku tak mungkin diambil orang lain
   karenanya hatiku tenang
Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain
   maka aku sibukkan diriku untuk beramal
Aku tahu, Allah selalu melihat
   karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat
Aku tahu kematian menantiku
   maka kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabbku

(AN)
***

Sumber: Lembar Risalah An-Natijah 21 Januari 2011
Read more